Ekonomi Pertanian Indonesia (Indonesian Economic Agriculture)


Ekonomi merupkan salah satu sektor yang sangat berpengaruh terhadap keberlangsungan suatu negara. Ekonomi bisa digunakan sebagai tolak ukur apakah suatu negara itu dikategorikan negara maju atau negara berkembang. Indonesia sebagai negara berkembang memiliki perekonomian yang bisa dikatakan masih perlu peningkatan. Hal ini dapat dilakukan dengan meninjau segala bidang seperti pertanian dan perkebunan, industri dan sebagainya. Indonesia sendiri dapat memaksimalkan potensi sumber daya alamnya yang melimpah, sehingga sektor pertanian merupakan salah satu yang paling mempengaruhi perekonomian Indonesia. Struktur ekonomi Indonesia pada sektor pertanian, peternakan, kehutanan dan perikakan menurut badan Statistik Indonesia, harga sementara hasil tanaman pangan adalah sebesar 213.529.700 juta rupiah pada tahun 2006 dengan demikian terdaftar lebih dari 35% pertumbuhan ekonomi yang terjadi sejak tahun 2003. Sementara harga hasil panen perkebunan sebesar 62.690.900 juta rupiah pada tahun 2006 dengan demikian terdaftar lebih dari 34% pertumbuhan sejak tahun 2003. Harga pada sektor peternakan dan produk turunannya adalah 51.276.400 juta rupiah pada tahun 2006 dengan demikian terdaftar lebih dari 37% pertumbuhan sejak tahun 2003. Sektor kehutanan senilai 30.017.000 juta rupiah pada tahun 2006 dengan demikian terdaftar lebih dari 63% pertumbuhan sejak 2003. Nilai sementara pada sektor perikanan adalah 72.979.900 juta rupiah pada tahun 2006 dengan demikian terdaftar lebih dari 60% pertumbuhan sejak tahun 2003.
            Pembangunan petanian kadangkala diabaikan manakala suatu negara sedang melakukan proses industrialisasi. Hal ini terjadi karena adanya anggapan bahwa industrialisasi memiliki eksternalitas yang tinggi dan harus merupakan industrialisasi yang berteknologi tinggi. Sementara pertanian merupakan ciri negara tradisionalis. Padahal sesungguhnya pembangunan pertanian tidak kalah penting dibandingkan proses industrialisasi.
Ekonomi pada sektor pertania, yaitu pertanian merupakan sektor primer dalam perekonomian Indonesia. Artinya pertanian merupakan sektor utama yang menyumbang hampir dari setengah perekonomian. Pertanian juga memiliki peran nyata sebagai penghasil devisa negara melalui ekspor.
Pembangunan pertanian yang sudah cukup berhasil dicapai oleh Indonesia pada tahun 1970-an sampai tahun 1980-an yang ditandai dengan meningkatnya pertumbuhan PDB (Produk Domestik Bruto) sektor pertanian sebesar 3,2% per tahunnya. Kemudian pada 1984 swasembada beras dapat tercapai dan berhasil memicu pertumbuhan ekonomi di pedesaan. Sayangnya, swasembada beras tersebut hanya dapat dipertahankan hingga tahun 1993. Tingkat produktivitas padi di Indonesia adalah yang tertinggi dari negara-negara lain di kawasan Asia Tenggara dan Asia Selatan. Oleh karena itu, Indonesia memiliki keunggulan yaitu beras sebagai subtitusi impor.
Terjadinya krisis ekonomi yang melanda Indonesia pada pertengahan 1997 menunjukkan bahwa sektor pertanian dapat bertahan dari sektor yang dibangga-banggakan pada tahun tersebut yaitu sektor industri. Bahkan sektor pertanian mengalami pertumbuhan sebesar 0,22%. Padahal perekonomian Indonesia pada saat itu mengalami penurunan pertumbuhan sekitar 13,68%.
Didalam memasuki pasar bebas, agroindustri dan agribisnis merupakan salah satu prioritas yang perlu dikembangkan dalam pembagunan nasional, mengingat potensi sumberdaya alam Indonesia yang berlimpah. Selain dari pada itu, selama masa krisis yang melanda perekonomian nasional, sektor pertanian masih tetap mampu bertahan terus. Sehingga dapat diprediksikan bahwa perekonomian nasional akan tetap tergantung pada sektor pertanian.
Pertanian di Indonesia khususnya dalam bidang ekonomi masih dihadang banyak maslah. Pertanian di Indonesia sedang berada di persimpangan jalan. Sebagai penunjang kehidupan berjuta-juta masyarakat Indonesia, sektor pertanian memerlukan pertumbuhan ekonomi yang kukuh dan pesat. Sektor ini juga perlu menjadi salah satu komponen utama dalam program dan strategi pemerintah untuk mengentaskan kemiskinan. Di masa lampau, pertanian Indonesia telah mencapai hasil yang baik dan memberikan kontribusi penting dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia, termasuk menciptakan lapangan pekerjaan dan pengurangan kemiskinan secara drastis. Hal ini dicapai dengan memusatkan perhatian pada bahan-bahan pokok seperti beras, jagung, gula, dan kacang kedelai. Akan tetapi, dengan adanya penurunan tajam dalam hasil produktifitas panen dari hampir seluruh jenis bahan pokok, ditambah mayoritas petani yang bekerja di sawah kurang dari setengah hektar, aktifitas pertanian kehilangan potensi untuk menciptakan tambahan lapangan pekerjaan dan peningkatan penghasilan.
Walaupun telah ada pergeseran menuju bentuk pertanian dengan nilai tambah yang tinggi, pengaruh diversifikasi tetap terbatas hanya pada daerah dan komoditas tertentu di dalam setiap sub-sektor. Pengalaman negara tetangga menekankan pentingnya dukungan dalam proses pergeseran tersebut. Sebagai contoh, di pertengahan tahun 1980-an sewaktu Indonesia mencapai
swasembada beras, 41% dari semua lahan pertanian ditanami padi, sementara saat ini hanya 38%; suatu perubahan yang tidak terlalu besar dalam periode 15 tahun. Sebaliknya, penanaman padi dari total panen di Malaysia berkurang setengahnya dari 25% di tahun 1972 menjadi 13% di 1998. Selain itu seperti tercatat dalam hasil studi baru-baru ini, ranting pemilik usaha kecil/ pertanian industrial, hortikultura, perikanan, dan peternakan, yang sekarang ini berkisar 54% dari semua hasil produksi pertanian, kemungkinan besar akan berkembang menjadi 80% dari pertumbuhan hasil agraris di masa yang akan datang. Panen beras tetap memegang peranan penting dengan nilai sekitar 29% dari nilai panen agraris. Tetapi meskipun disertai dengan tingkat pertumbuhan hasil yang tinggi, panen beras tidak akan dapat mencapai lebih dari 10% nilai peningkatan pertumbuhan hasil.
            Industri Nasional Sangat Bertumpu pada Kelimpahan SDA dan SDM . Globalisasi ekonomi yang tengah berlangsung dewasa ini menuntut setiap negara meningkatkan daya saingnya, baik di pasar domestiknya sendiri maupun di pasar internasional. Peningkatan daya saing ternyata bukan pekerjaan yang mudah dilaksanakan karena hal yang berkaitan dengannya sangat banyak dan rumit. Hasil studi menunjukkan bahwa industri nasional ternyata sangat bertumpu dan atau mengandalkan kelimpahan sumberdaya alam dan sumberdaya manusia. Misalnya, diketahui bahwa sekitar 54% pekerja dan 46,5% biaya tenaga kerja tersedot pada lima sub-sektor, yaitu food, tekstil, garment, footwear dan perkayuan. Hal ini memberikan indikasi bahwa industri nasional kurang kenyal menghadapi perubahan dan pergeseran yang terjadi.
Salah satu masalah pertanian Indonesia adalah pemasiaran hasil pertaniannya. Pembangunan pengolahan dan pemasaran hasil pertanian adalah merupakan pembangunan system dan usaha pengolahan hasil pertanian yang meliputi penangan pascapanen dan pengolahan produk yang menghasilkan produk segar, produk olahan utama, produk ikatan serta pembangunan pemasaran baik domestik maupun pasar internasional.
Industri Nasional Sangat Bertumpu pada Kelimpahan SDA dan SDM . Globalisasi ekonomi yang tengah berlangsung dewasa ini menuntut setiap negara meningkatkan daya saingnya, baik di pasar domestiknya sendiri maupun di pasar internasional. Peningkatan daya saing ternyata bukan pekerjaan yang mudah dilaksanakan karena hal yang berkaitan dengannya sangat banyak dan rumit. Hasil studi menunjukkan bahwa industri nasional ternyata sangat bertumpu dan atau mengandalkan kelimpahan sumberdaya alam dan sumberdaya manusia. Misalnya, diketahui bahwa sekitar 54% pekerja dan 46,5% biaya tenaga kerja tersedot pada lima sub-sektor, yaitu food, tekstil, garment, footwear dan perkayuan. Hal ini memberikan indikasi bahwa industri nasional kurang kenyal menghadapi perubahan dan pergeseran yang terjadi.
Namun tanpa disadari bahwa produksi pertanian Indonesia yang berlimpah terkadang tidak dibarengi dengan penyedian pasar bagi produk pertanian. Selain itu adanya kecenderungan pula, dimana petani lebih senang menjual hasil pertaniannya dalam bentuk bahan mentah memiliki beberapa kelemahan diantaranya adalah nilai jual yang rendah, mudah rusak dan daya simpan yang sangat terbatas. Dengan demikian petani tidak memiliki nilai tambah dari kegiatan usaha taninya.
Hasil pertanian yang melimpah dihargai rendah, dari produsen ke pengumpul atau distributor. Panjangnya alur pemasaran dan alur pendistribusian hasil pertanian menyebabkan harganya semakin tinggi. Ditambah lagi produk impor yang harganya cenderung lebih murah dengan kualitas sama bahkan lebih baik dari hasil pertanian dalam negeri menambah keterpurukan produk petani lokal. Tidak tersedianya pasar bagi produk pertanian merupakan ancaman bai kelangsungan hidup para pelaku usaha yang terlibat didalamnya. Disatu sisi, hal ini menyebabkan pula keengganan petani untuk mnghasilkan produk yang berkualitas dan berdaya saing. Sehingga orientasi petani hanya untuk berusaha tani semata-mata hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup. Jadi terdapat suatu fenomena untuk menjual yang dimiliki bukan apa yang diminta pasar.
·         Ekspor Hasil Pertanian
Produk ekspor Indonesia meliputi hasil produk pertanian, hasil hutan, hasil perikanan, hasil pertambangan, hasil industri dan begitupun juga jasa.
Contoh hasil pertanian yaitu: karet, kopi kelapa sawit, cengkeh,teh,lada,kina,tembakau dan cokelat. Manfaat dari kegiatan ekspor dan impor yaitu : Dapat memenuhi kebutuhan masyarakat, pendapatan negara akan bertambah karena adanya devisa, meningkatkan perekonomian rakyat, mendorong berkembangnya kegiatan industri

Dari sisi perdagangan internasional yang berorientasi pasar ekspor, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yang menjadi suatu pegangan untuk memajukan pertanian kedepan, hal-hal yang perlu diperhatikan yaitu:
A.  Masalah Produksi.
1.  Tipe ataupun model komoditi yang dihasilkan oleh petani.
2.  Kapasitas produksi hasil pertanian
3.  Mutu Komoditi
B.  Masalah Pemasaran
1.   Menentukann pasar ekspor produk pertanian yaitu : a. Riset Pasar (Marketing Research) b. Sistem Promosi (Promotion System) c. Kebijakann Harga (Pricing Policy)
2.  Menentukan distribusi pemasaran (Channel Distribution)
C.    Masalah Penanganan Ekspor
D.    Masalah Fasilitasi Ekspor
E.     Masalah Kendala Ekspor
·         Contoh salah satu masalah pertanian Indonesia
Masalah yang saya soroti selain pemasaran hasil pertanian yang lemah adalah kondisi kondisi pasar beras saat ini. Kondisi pasar beras internasional saat ini memiliki gambaran sebagai berikut : (1) Pasar beras dunia memiliki struktur sebagian pasar yang tidak sempurna. Hanya lima negara pengekspor yang menguasai sekitar 65% pasar dunia, walaupun teknologi informasi memberikan peluang perbaikan struktur pasar tersebut dengan meningkatkan persaingan di antara pedagang eksportir dalam satu negara; (2) Pasar beras dunia hanya mencapai sekitar 20 juta ton, dan jika Indonesia (merupakan pelaku "besar" dalam pasar dunia) meningkatkan impor 1 juta ton maka harga pasar dunia akan meningkat antara US$ 10 – 30 per ton; (3) harga beras dunia cenderung akan berfluktuasi antara US$130 – 200 per ton (25% broken) dalam 3-5 tahun yang akan datang. Dalam jangka pendek, hal ini akan terlihat menguntungkan bagi konsumen karena harga beras yang murah, tetapi dalam jangka panjang dapat melemahkan minat petani mengusahakan padi. Tingkat harga yang rendah di pasar dunia saat ini (sekitar US$ 130 per ton) telah sangat memberatkan petani padi di dua eksportir utaa yaitu Thailand dan Vietnam.

Masalah-masalah pertanian yang kaitannya dengan pengaruh perekonomian Indonesia harus ditemukan solusinya. Karena jika terus begini tentu Indonesia tidak akan maju dan tetap terpuruk dalam kondisi kemiskinan. Salah satu peluang besar untuk pemasaran hasil pertanian (ekspor) adalah meningkatnya perhatian Uni Eropa terhadap pertanian organik (organic farming). Hal ini mengingat bahwa dengan dicanangkan logo "organic foods" oleh Komisi Eropa baru-baru ini, maka produk pertanian organik diperkirakan akan semakin populer dan banyak diminati oleh masyarakat. Dengan demikian maka permintaan komoditi pertanian organik ini akan semakin meningkat. Di lain pihak, pengawasan terhadap residu obat-obatan, pestisida, hormon dan bahan pengawet pada produk pertanian impor kemungkinan besar akan semakin ketat. Ini adalah pekerjaan rumah bagi pertanian Indonesia untuk meningkatkan kualitas hasil berkelas ekspor agar diterima pasr internasional. Selain itu, hal-hal sederhana yang dapat dilakukan antara lain : mengutamakan produk-produk petani lokal agar dan mengurangi produk ekspor, mempermudah pemasaran hasil pertanian dengan cara menyediakan badan khusus untuk pendistribusian hasil pertanian, member penyuluhan dan pengetahuan kepada para petani agar mampu bersaing dengan negara lain dan dapat mengikuti arus globalisasi serta mish banyak lagi yang bias diusahakan dengan maksimal.

Comments